Nabastala nampak makin pekat, awan hitam bergemuruh hingga akhirnya butiran hujan turun membasahi bumi.
Air mataku menyatu dengan hujan, pikiranku mengajak gelut dengan berbagai kekhawatiran.
Aku menyusuri jalanan sunyi, berjalan dibawah lentera sebagai penerang, berpayungkan hoodie, tapi tetap saja hujan membasahi sekujur tubuhku, "ah,seharusnya aku membawa shampo", batinku sendirian berusaha menghidupkan suasana ditengah kesepian.
Harsaku pudar kau hapus dengan pengkhianatan, suar dihatiku padam. Kau merajut harapan dengan segala ucapan kau urai, yang kau selimuti dengan komitmen.
Tapi, Kafe yang baru saja kita kunjungi, sebagai saksi akhir dari kisah kita selama ini, "Baiknya cafe itu ditutup saja", pikiranku masih saja mengacaukan, bukan malah mendamaikan, ah terkadang susah melawan pikiran sendiri.
Diamku seketika nestapamu, aku tak lagi menatapmu dengan senyum manis, tapi sinis.
Kutepis tanganmu yang berusaha untuk meraih tanganku, kau penuh dengan drama. Aku memaafkan apapun kecuali perselingkuhan, sungguh aku tidak bisa toleransi untuk itu.
____________________________________
0 komentar:
Posting Komentar