Minggu, 29 Juni 2014

Pemula Bermula

Awalnya hanya mencoba, menuliskan apa yang ada dipikiran, menuliskan apa yang kulihat. Aku mulai ingin membiasakan menulis. Aku tau, aku tak cukup pandai, menurutku itu sulit, dan memang sulit jika kamu sama sekali tak berkeinginan untuk menulis.

Berpalingnya Cinta Primadona Desa

Ceritanya berawal dari seorang Bapak berkumis tertata rapi dan lebat didekat bibirnya, yang sangat sayang pada Istrinya. Istrinya yang keturunan dari darah Aceh campuran, jadi primadona desa dikampung Riau walaupun lelaki yang melirik sudah mengetahui si ibuk sudah berstatus Istri. Senyum si ibuk saya akui mengalah-ngalahkan senyum saya. Tak salah jika sibapak was was meninggalkan ibuk berlama2 diumah, apalagi si bapak pergi selama berbulan2 dinegri orang. Katanya ketika masih single dulu, pak kumis ini termasuk orang kaya dikampungnya.

Remaja dengan Obornya

Ramadhan yg penuh berkah, sayup adzan belum terdengar tapi para "tentara" sudah saling melemparkan "obor" nya. Tak penting yang muda maupun yang tua, masing-masing memegang bermacam2 "obor". 10menit berlalu, para "tentara" masih tak berhenti, suara adzan sahut menyahut mulai terdengar dari 1 mesjid ke mesjid yang lain, Namun tidak menghapus semangat para "tentara2 remaja" , sambil tertawa, berlari kesana kemari, lempar melempar "obor" , sama sekali tak menghiraukan suara adzan yang merdu. Tahukah kalian para "tentara" yang kusebut? Mereka adalah remaja2 dikampung ku, dan "obor" yang mereka pegang dan lemparkan adalah berbagai macam bentuk mercun, mulai dari yang kecil hingga yang besar. Aku mulai berpikir, kenapa mereka tidak dikirim ke negri lain saja? Seperti Palestina dan Syria, agar mereka benar2 merasakan suasana yang mencekam, tiap hari mendengar suara tembakan..