Aku sering memperhatikan lelaki tua itu, dengan sepeda yang telah berubah warna. Kakinya masih kuat untuk mengayuh sepeda yang berjarak 100km, sejenak dia turun dari tunggangannya, meraih handpone dr sakunya dan berjalan ke counter tempat ku menulis, membaca, juga melayani pelanggan yang bersifat "serba ada" hehe. Jari jemari pak tua bermain diatas gundukan tombol hp nokia tipe lama. Dia memandangku, Kemudian mencurahkan semua uneg-unegnya pada ku, seolah pak tua ini sedang terhipnotis.
"mau ngisi pulsanya anak, juga mau ngasi beras ke anak" ujarnya sambil tersenyum.
dengan penasaran dan dahi sedikit mengerut untuk mengulangi perkataan pak tua dalam pikiranku, "emang anak bapak dimana?
"udah dekat kok dari sini, cuma saya agak sedikit lelah, jadi mending ditelpon saja. Itu anak bapak udah nikah, tapi ya begitulah .. bapak masih menanggung biaya hidup mereka. Bapak kasian, karena dari kecil mereka ditinggal ibunya jadi bapak yang merawat dari kecil. Iya lah ... namanya juga anak" sejenak pak tua terdiam dan kembali melanjutkan ceritanya "Ibunya pergi ketika mereka masih kecil, bukan meninggal... cuma silau gara-gara harta. Dia bertemu dengan seorang laki2 yang menaiki mobil mewah, dan dalam itungan bulan mereka pun menikah. Antara saya dan istri saya tidak pernah ada kata cerai, dia pergi begitu saja. Tapi saya dapat kabar rupa2nya pemuda yang dia nikahi hanya seorang karyawan dengan sepeda motor biasa hahaha lucu sendiri saya melihatnya. kalau istri saya tidak ingin menatap wajah saya, ataupun menegur saya silahkan, tapi jangan sama anaknya sendiri, sakit saya rasa. ketika anak saya melihat ibunya makan diwarung dengan suami barunya, anak saya mampir dan minta dibelikan Mie rebus, Ibunya diam saja tidak memperdulikan seolah tidak pernah kenal. kalau itu nak, geram kali saya rasa.