Menyaru demi sebuah aksi agar meraup empati, membolehkan perangai apapun karena terobsesi dengan hasrat ingin dipuji.
Berkali-kali mengumpulkan massa, lidah merunjam lewat perkataan brutal dipertontonkan, dengan maksud agar yang lain acuh, memaksa mereka mengakui bahwa kau layak untuk disokong, kau tak perduli lagi dicap sebagai tak beradab, tapi sungguh, moralmu lenyap.
Tersakiti dengan luka yang disebabkan oleh ambisi sendiri, terlunta-lunta dengan kecaman yang tak mendapatkan perlawanan.
Hatimu, butuh didaur ulang, karena kau menikmati sebuah kericuhan yang kau anggap hiburan
0 komentar:
Posting Komentar